Showing posts with label melodum. Show all posts
Showing posts with label melodum. Show all posts

4.12.10

Mungkin Suara Bang Iwan Lebih Didengar...

Sedikit nostalgia untuk pengkritik dan yang dikritik. Saya sebut nostalgia, karena pasti mereka sudah lebih dulu fasih dengan lagu kritikan yang berjudul ”Bongkar” dari Iwan Fals untuk penguasa orde baru dulu. Mungkin aneh bila sekarang, lagu ini malah ditujukan kepada mereka yang duduk di singgasana empuk penuh dengan tumpukan kewenangan.

Demikian juga saya sebut nostalgia bagi para pengkritik, bukan saja karena ini lagu lama. Namun  juga karena ini dapat menggambarkan bahwa bagaimana pada saat itu segala cara diupayakan dan diluncurkan oleh segenap elemen agar transparansi, keadilan dan segala tetek bengeknya yang tidak digubris tersebut dapat diwujudkan.

Sentilan kecil, di mana kami coba untuk meminjam suara Bang Iwan yang mungkin lebih nyaring sehingga mampu dengan jernih didengar. Karena yang kami dan kita tahu, bahwa kami hanya mampu mengungkapkan keresahan dan harapan. Semoga keresahan dan harapan kami dijawab dengan cinta.... 

BONGKAR – Iwan Fals

Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperbudak jabatan

 O, o, ya o ... ya o ... ya bongkar
O, o, ya o ... ya o ... ya bongkar

Sabar, sabar, sabar dan tunggu
Itu jawaban yang harus kami terima
Ternyata kita harus turun ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

O, o, ya o ... ya o ... ya bongkar
O, o, ya o ... ya o ... ya bongkar

Di jalan kami sandarkan cita-cita
Sebab di rumah tiada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

31.8.09

cerita di akhir agustus

Terlalu lama kau tinggalkan aku
Terlalu lama kau biarkan menunggu
Hingga ku terbiasa hidup sendiri, tanpa kau disini

Apa pun alasan yang kuterima
Mencoba cari orang yang setia
Hingga ku terbiasa hidup sendiri, tanpa kau temani

Apakah saat ini aku masih mengharap kau kembali ?
Biarkan mulai kini buang janjimu dan kau bebas pergi

Setidaknya aku sepenuh hati,
Walaupun kau tak juga membalasnya
Dan kau kehilangan orang sepertiku, apakah kau tahu ?

Sudahlah saat ini aku tak mengharapkan kau kembali
Biarkan mulai kini buang janjimu dan kau bebas pergi

Dan kau sia-siakan orang sepertiku...

Lirik cadas, suara Ipang, ditambah aransemen yang pas dari band BIP membuat lagu "Orang Sepertiku" ini, aku putar berkali - kali di akhir Agustus. Seperti tertohok tajam jantung ini ketika mendengar lagu ini pertama kali. Huuff... emosinya terasa..

Entah sesal atau tidak, hidup itu selalu ada pilihan yang juga diikuti oleh resiko - resikonya. Mereka menggoda, aku tergoda. Aku mencoba memikirkan kembali keputusanku. Disaat aku sedang memikirkan hal tersebut, aku membuat keputusan yang lain.

Hah dasar, naluriah sekali diri ini..
Namun kenaluriahan ini bukan merupakan spontanitas, bukan yang tak terpikirkan. Karena semua yang aku jalani selalu kunikmati, baik senang maupun susah. Aku selalu memikirkan kenikmatan yang kujalani karena semua itu merupakan pencarian makna dari adanya nafas ini.