Showing posts with label miscellus. Show all posts
Showing posts with label miscellus. Show all posts

6.2.11

#justsaying 2

Insomnia tak kunjung reda. Insomnia tak jadi masalah.
Geramannya tak harus kamu gubris, karena itu bentuk perhatian.

Malam ini, kita menikmati bulan. Malam ini, kita menantang dingin.
Tak usah pedulikan keanehan yang kita lakukan, karena ini ungkapan kesepian. Karena ini jeritan persahabatan.

Insomnia ini tak jadi masalah, walau kita tahu, matahari makin cemburu dengan hangatnya bintang.
Lelah kita ini bukan soal, walau kadang dalam bercakap kita membual .

Ini semua hanya ungkapan, yang kiranya tak tertangkap asa karam. Keseluruhan penuh harap tak hanya jadi semu.

24.1.11

#justsaying

Lelahku takkan pernah jadi lelahmu. Begitu juga dengan kesenanganku, takkan pernah jadi milikmu. Hidupku tak kunjung usai untuk berperang. Aku tak akan berhenti hingga benar benderang. Jangan berpikir, aku tak merindukan suaramu. Karena hanya itulah nafas yang kan kuingat.

Aku berusaha sendiri untuk coba berdiri tegak. Aku tak perlu Tuhanmu, karena takut menjadi pesakitan. Jangan paksa aku menyanyikan lagu puja-pujian untuk Sang Pencipta, kalau Dia sendiri tak dapat turun langsung memberikan mukjizat-Nya.

Jiwa mengawang ini, menyambut raga yang lelah. Pikirku melayang, menunggu sambutan. Aku tergerus dengan kesibukkan yang mematikan. Ini sungguh berbisa, karena telah mengalir di dalam darahku. Tak mampu aku hentikan. Karena aku hanya mampu redakan sejenak.

Hai kamu yang di sana! Aku ingin sekali mengaliri air mata ini. Melepas kejenuhan hati, meremukkan dendam yang masih mengakar. Namun dinginnya lantai ini, mampu membekukan keresahan jiwa ini. Jangan lagi paksa aku untuk terus meratap, karena mosaik ini sudah pasti mudah pecah.

Ahhh... Mataku lelah menerawang. Pikiranku lelah untuk menebak. Cukup! Aku tak kan lagi memotong. Karena ini bukan tentang keindahan. Ini tentang keindahan. Kamu bingung? Jangan! Ini ternyata memang hanya permainan realitas. Hanya yang punya kuasa, yang sanggup mengkostruksinya.

Kamu ingin sebuah kebaikan, aku punya penilaian. Aku seorang malaikat, bila kamu mampu meliuriku. Tak usah sungkan, karena hanya ini yang kucari. Sebuah kemasyuran, sebuah sanjungan. Aku tak butuh nada minormu, karena aku paling tahu bahwa kamu sangat mengharapkanku sungguh.

Cukup sudah aku menggeliatkan lidah dan pikiranku. Lelahku takkan pernah jadi lelahmu. Begitu juga dengan kesenanganku, takkan pernah jadi milikmu. Sebab aku tahu, kamu hanya menginginkannya, bukan untuk meraihnya. Salam hangat dariku yang juga demikian.


3.7.10

tungku keabadian


tak pernah terpikir sedikit pun mengenai kesenangan
tak pernah terpikir sedikit pun mengenai kesedihan
tak pernah terpikir sedikit pun mengenai kekaguman
tak pernah terpikir sedikit pun mengenai penyesalan

ini bukan perihal surga
ini bukan perihal neraka
ini bukan perihal kesucian
ini bukan perihal kenestapaan

yang kulakukan adalah pilihan
yang kulakukan adalah penyerahan
yang kulakukan adalah kegembiraan
yang kulakukan hanya untuk keabadian

30.6.10

mess.riot

mencari tapi bergeming
terlalu banyak pinta

jangan turuti nafsu
yang ada sekarang sedikit kesadaran

jangan mengambigu
jangan terjebak dengan kesederhanaan

karena tidak pernah putih
karena selalu bertempur

aku mati, atau tidak?
bukan jawaban, tidak juga pertanyaan?

ini permintaan dari benak
terlalu sulit, karena aku yang paham

7.6.10

HIPOtermia

Pagi ini...

Tak mau terulang. Berhati, berasio.
Tak mau untuk digubris.

Pagi ini...

Jangan tanya tentang indahnya pelangi,
karena hari ini, mentari tidak berani membuka matanya.

Pagi ini...

Jangan tanya tentang hangatnya cinta,
karena dinginnya sang surya, aku hipotermia.


*Note:
Pembenaran dan kebenaran menjadi sesuatu hal yang sulit dibedakan.
Entah kenapa, pembenaran sangat dekat dengan kesalahan.
Entah kenapa, hal itu sangat intim dengan pandangan yang sempit.
Kebenaran tidak pernah dekat dengan kesalahan.
Karena keduanya mempunyai alasan jelas untuk membuat jarak.

17.4.10

Aku Pikir, Aku Mati.

Aku tidak menerka, aku memastikan.

Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Tak perlu bersemayam lebih lama di dalam daging ini. Daging ini liar, daging ini penuh nafsu. Aku tak bisa mengubah itu.

Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Aku mati oleh pikiranku sendiri. Karena aku pikir, aku yang paham tentang itu. Hal itu tidak akan memperalat raga ini, walaupun kadang membutakan nurani.

Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Pikiran, jiwa, dan raga ini ini hanya aku yang mengerti. Cinta ini tidak hanya untukku, meski hanya aku yang paham. Raga ini bukan hanya untukku, meski hanya aku yang mengerti. Jiwa ini jelas untuk sesamaku, meski hanya aku yang yang tahu.

Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Ragaku tak akan merasakan polusi dunia lebih lama. Tak berpikir pula untuk mencintai dunia ini untuk waktu yang lebih lama. Jiwa ini siap melepas semuanya.

Aku pikir, paling tidak 10 tahun lagi. Aku dibakar, aku memilih untuk jadi abu. Aku celaka oleh diriku sendiri atau orang lain, aku tak tahu. Tapi aku memilih untuk celaka oleh ideku.

Aku pikir, aku mati oleh pikiranku 10 tahun lagi.

16.4.10

Kesadaran Pagi

jangan bangun. jangan beranjak.
waktu akan berhenti sejenak.
statis.


jangan dilawan. jangan digubris.
biarkan rasio ini merajalela.

idealis.



bukan untuk dipertanyakan. bukan untuk dijawab.
cobalah rasakan kepenatan ini.

stagnan.



mata takkan menuli. telinga takkan membuta.
biarkan tangan berlari.

peka.



ini situasi. ini latihan. ini kepedulian. ini kemirisan. ini perlawanan. ini takkan berhenti.

13.8.09

Cerita sekarang ...

it's going crowded..
can't step carefully..
don't know the destination..

Limbung jalanku untuk melihat garis akhir. Samar, sangat samar. Mata ini terbuka lebar, namun fokusnya mulai menghilang. Aku cari AF (Auto Focus) seperti yang ada di kameraku. Huhh.. tak juga membantu ternyata.

Ahh.. aku butuh pegangan untuk menyeimbangkan semuanya. Aku lihat! Walaupun tetap samar. Tapi tunggu sebentar... Sepertinya aku tahu, itu siapa? atau apa? Aku perjelas penglihatanku. Kalau apa, akan segera kuhampiri untuk keseimbangan ini. Tapi kalau siapa, biarlah aku tak melihat dan jadi bisu mendadak.

Takut aku untuk bercerita. Walaupun tidak melihat jernih, lebih baik aku buang saja semua. Semuanya mimpi buruk. Duh.. aku mengaduh lagi. Terlalu keras penolakanku ini. Aku sadar ini. Ego ini tak akan kubendung lagi. Entah kapan aku pernah dimulai dan diakhiri pergulatan ini.

Laksana seperti tak punya harapan. Nikotin. Aku terpikir lagi tentang itu disaat seperti ini. Zat penenangnya membuat diri ini lari kesana-kemari. Hahaha.. aku ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi tak ada yang lucu. Nanana.. aku ingin menyanyi dengan suara lantang. Tapi tak ada alunan musik. Kujentikkan jari, kugoyangkan pinggul.. aku ingin menari. Tapi tak ada suara tabuhan karawitan.

Ahh... tak lagi dapat menarik nafas panjang. Semua sudah habis di cerita yang dulu. Aku sakau seperti pengguna narkoba. Semua kututup, tak ada tempat untuk semua. Biar jiwa ini larut dalam kecepatan rana. Biar jiwa ini keluar-masuk melalui diafragma. Biar jiwa ini terlentang di sensor gambar.

Hahaha... sayang tidak ada yang dapat mengambil foto diriku. Dasar nasib fotografer. Tak cocok untuk jadi obyek kamera. Selain aku, tak ada yang lain. Tak akan ada perubahan ketika aku sendiri yang mengambil foto ini. Ahh.. berharap lagi. Cukuplah pikirku untuk berharap ada yang bisa mengambil foto diri ini secara bagus dan bermakna.

Cerita ini tak akan berhenti, sebelum nafasku berhenti.. lanjutan di cerita berikutnya

31.7.09

Ternyata (Belum) Kuat

Sebelum matahari terbit ...
Lembek sekali mental ini untuk menjaga
Lembek sekali hati ini untuk kehilangan

Sebelum matahari terbit ...
Naif sekali pikiran ini saat memiliki
Cengeng sekali emosi ini saat tak memiliki lagi

Saat matahari terbit ...
Segarnya udara pagi  membuat raga siap bertarung
Mimpi indah semalam, membuat ide berkeliaran kesana - kemari

Saat matahari terbit ...
Panasnya sinar matahari malah menguatkan mentalku
Keringat yg masuk ke mataku, tak membuat aku terpejam ketika jatuh

Setelah matahari terbit ...
Siap menantang  yang mengganggu
Siap melihat punggungnya yg berjalan menjauh

Setelah matahari terbit ...
Siap menjaga dan memberi yang telah dimiliki
Siap menegakkan kepala terhadap penolakan

Ya atau Tidak ...
Aku tahu apa yang harus dilakukan
Aku siap dengan segala kepastian yang ada

Namun ...
Aku tak tahu apa yang harus dilakukan
Ketika waktu berhenti dalam ketidakpastian 

Diri ini tak punya daya untuk menunggu dan terus menunggu..

27.7.09

3 Hari (mungkin) untuk Selamanya

Beda,memperkaya
Beda,memperburuk
Beda adalah pertanggung jawaban

3 hari (mungkin) untuk selamanya
3 hari gila (mungkin) menggila
Entah siapa yg gila

Emosi yg ditutup profesionalisme
Profesionalisme yg memancing emosi

Raga lelah ini tak punya kekuatan
Tak sebanding sinar yg memekakan mataku
Keunikan disajikan oleh-Nya
Membungkam mulutku yg bau

Desiran angin menggelitik bulu kuduk
Sengaja menyadarkanku bahwa ada hal lain di dunia yg sempit ini