6.2.11
#justsaying 2
Geramannya tak harus kamu gubris, karena itu bentuk perhatian.
Malam ini, kita menikmati bulan. Malam ini, kita menantang dingin.
Tak usah pedulikan keanehan yang kita lakukan, karena ini ungkapan kesepian. Karena ini jeritan persahabatan.
Insomnia ini tak jadi masalah, walau kita tahu, matahari makin cemburu dengan hangatnya bintang.
Lelah kita ini bukan soal, walau kadang dalam bercakap kita membual .
Ini semua hanya ungkapan, yang kiranya tak tertangkap asa karam. Keseluruhan penuh harap tak hanya jadi semu.
24.1.11
#justsaying
3.7.10
tungku keabadian
tak pernah terpikir sedikit pun mengenai kesenangan
tak pernah terpikir sedikit pun mengenai kesedihan
tak pernah terpikir sedikit pun mengenai kekaguman
tak pernah terpikir sedikit pun mengenai penyesalan
ini bukan perihal surga
ini bukan perihal neraka
ini bukan perihal kesucian
ini bukan perihal kenestapaan
yang kulakukan adalah pilihan
yang kulakukan adalah penyerahan
yang kulakukan adalah kegembiraan
yang kulakukan hanya untuk keabadian
30.6.10
mess.riot
terlalu banyak pinta
jangan turuti nafsu
yang ada sekarang sedikit kesadaran
jangan mengambigu
jangan terjebak dengan kesederhanaan
karena tidak pernah putih
karena selalu bertempur
aku mati, atau tidak?
bukan jawaban, tidak juga pertanyaan?
ini permintaan dari benak
terlalu sulit, karena aku yang paham
7.6.10
HIPOtermia
Tak mau terulang. Berhati, berasio.
Tak mau untuk digubris.
Pagi ini...
Jangan tanya tentang indahnya pelangi,
karena hari ini, mentari tidak berani membuka matanya.
Pagi ini...
Jangan tanya tentang hangatnya cinta,
karena dinginnya sang surya, aku hipotermia.
Entah kenapa, pembenaran sangat dekat dengan kesalahan.
Entah kenapa, hal itu sangat intim dengan pandangan yang sempit.
Kebenaran tidak pernah dekat dengan kesalahan.
Karena keduanya mempunyai alasan jelas untuk membuat jarak.
17.4.10
Aku Pikir, Aku Mati.
Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Tak perlu bersemayam lebih lama di dalam daging ini. Daging ini liar, daging ini penuh nafsu. Aku tak bisa mengubah itu.
Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Aku mati oleh pikiranku sendiri. Karena aku pikir, aku yang paham tentang itu. Hal itu tidak akan memperalat raga ini, walaupun kadang membutakan nurani.
Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Pikiran, jiwa, dan raga ini ini hanya aku yang mengerti. Cinta ini tidak hanya untukku, meski hanya aku yang paham. Raga ini bukan hanya untukku, meski hanya aku yang mengerti. Jiwa ini jelas untuk sesamaku, meski hanya aku yang yang tahu.
Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Ragaku tak akan merasakan polusi dunia lebih lama. Tak berpikir pula untuk mencintai dunia ini untuk waktu yang lebih lama. Jiwa ini siap melepas semuanya.
Aku pikir, paling tidak 10 tahun lagi. Aku dibakar, aku memilih untuk jadi abu. Aku celaka oleh diriku sendiri atau orang lain, aku tak tahu. Tapi aku memilih untuk celaka oleh ideku.
Aku pikir, aku mati oleh pikiranku 10 tahun lagi.
16.4.10
Kesadaran Pagi
waktu akan berhenti sejenak.
statis.
jangan dilawan. jangan digubris.
biarkan rasio ini merajalela.
idealis.
bukan untuk dipertanyakan. bukan untuk dijawab.
cobalah rasakan kepenatan ini.
stagnan.
mata takkan menuli. telinga takkan membuta.
biarkan tangan berlari.
peka.
ini situasi. ini latihan. ini kepedulian. ini kemirisan. ini perlawanan. ini takkan berhenti.
13.8.09
Cerita sekarang ...
it's going crowded..
can't step carefully..
don't know the destination..
Limbung jalanku untuk melihat garis akhir. Samar, sangat samar. Mata ini terbuka lebar, namun fokusnya mulai menghilang. Aku cari AF (Auto Focus) seperti yang ada di kameraku. Huhh.. tak juga membantu ternyata.
Ahh.. aku butuh pegangan untuk menyeimbangkan semuanya. Aku lihat! Walaupun tetap samar. Tapi tunggu sebentar... Sepertinya aku tahu, itu siapa? atau apa? Aku perjelas penglihatanku. Kalau apa, akan segera kuhampiri untuk keseimbangan ini. Tapi kalau siapa, biarlah aku tak melihat dan jadi bisu mendadak.
Takut aku untuk bercerita. Walaupun tidak melihat jernih, lebih baik aku buang saja semua. Semuanya mimpi buruk. Duh.. aku mengaduh lagi. Terlalu keras penolakanku ini. Aku sadar ini. Ego ini tak akan kubendung lagi. Entah kapan aku pernah dimulai dan diakhiri pergulatan ini.
Laksana seperti tak punya harapan. Nikotin. Aku terpikir lagi tentang itu disaat seperti ini. Zat penenangnya membuat diri ini lari kesana-kemari. Hahaha.. aku ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi tak ada yang lucu. Nanana.. aku ingin menyanyi dengan suara lantang. Tapi tak ada alunan musik. Kujentikkan jari, kugoyangkan pinggul.. aku ingin menari. Tapi tak ada suara tabuhan karawitan.
Ahh... tak lagi dapat menarik nafas panjang. Semua sudah habis di cerita yang dulu. Aku sakau seperti pengguna narkoba. Semua kututup, tak ada tempat untuk semua. Biar jiwa ini larut dalam kecepatan rana. Biar jiwa ini keluar-masuk melalui diafragma. Biar jiwa ini terlentang di sensor gambar.
Hahaha... sayang tidak ada yang dapat mengambil foto diriku. Dasar nasib fotografer. Tak cocok untuk jadi obyek kamera. Selain aku, tak ada yang lain. Tak akan ada perubahan ketika aku sendiri yang mengambil foto ini. Ahh.. berharap lagi. Cukuplah pikirku untuk berharap ada yang bisa mengambil foto diri ini secara bagus dan bermakna.
Cerita ini tak akan berhenti, sebelum nafasku berhenti.. lanjutan di cerita berikutnya
31.7.09
Ternyata (Belum) Kuat
Sebelum matahari terbit ...
Lembek sekali mental ini untuk menjaga
Lembek sekali hati ini untuk kehilangan
Sebelum matahari terbit ...
Naif sekali pikiran ini saat memiliki
Cengeng sekali emosi ini saat tak memiliki lagi
Saat matahari terbit ...
Segarnya udara pagi membuat raga siap bertarung
Mimpi indah semalam, membuat ide berkeliaran kesana - kemari
Saat matahari terbit ...
Panasnya sinar matahari malah menguatkan mentalku
Keringat yg masuk ke mataku, tak membuat aku terpejam ketika jatuh
Setelah matahari terbit ...
Siap menantang yang mengganggu
Siap melihat punggungnya yg berjalan menjauh
Setelah matahari terbit ...
Siap menjaga dan memberi yang telah dimiliki
Siap menegakkan kepala terhadap penolakan
Ya atau Tidak ...
Aku tahu apa yang harus dilakukan
Aku siap dengan segala kepastian yang ada
Namun ...
Aku tak tahu apa yang harus dilakukan
Ketika waktu berhenti dalam ketidakpastian
Diri ini tak punya daya untuk menunggu dan terus menunggu..
27.7.09
3 Hari (mungkin) untuk Selamanya
Beda,memperburuk
Beda adalah pertanggung jawaban
3 hari (mungkin) untuk selamanya
3 hari gila (mungkin) menggila
Entah siapa yg gila
Emosi yg ditutup profesionalisme
Profesionalisme yg memancing emosi
Raga lelah ini tak punya kekuatan
Tak sebanding sinar yg memekakan mataku
Keunikan disajikan oleh-Nya
Membungkam mulutku yg bau
Desiran angin menggelitik bulu kuduk
Sengaja menyadarkanku bahwa ada hal lain di dunia yg sempit ini