10.5.10

Terusik Kesadaran

Hidupmu itu belajar. Entah belajar untuk hidup atau hidup untuk belajar.

Jangan pernah sesalkan apa yang sudah terjadi namun tanyakanlah kepada dirimu tentang apa yang sudah terjadi. Bukan untuk ditangisi, tapi untuk sebuah pembelajaran.

Hidup ini butuh bekal.
Dan hanya kamu yang mampu mencukupi keperluanmu.
Hidup itu kadang butuh ketenangan.
Dan hanya kamu yang mampu membuat dirimu tenang.
Hidup juga merupakan pencarian.
Dan hanya kamu yang tahu apa yang kamu cari.

Kamu, mereka, kita, kalian, bahkan aku adalah pengalaman, adalah pemaknaan.
Saat kamu mengerti, kamu tidak akan pernah menyesal dengan semua yang telah kamu jalani.
Saat mereka mengerti, mereka tidak akan pernah menyesal dengan semua yang telah mereka kerjakan.
Saat kita mengerti, kita tidak akan pernah menyesal dengan semua yang telah kita miliki.
Saat kalian mengerti, kalian tidak akan pernah menyesal dengan semua yang telah kalian lihat.
Dan saat aku mengerti, aku tidak akan pernah menyesal dengan semua yang telah aku pikir, rasa, dan pahami.

6.5.10

untuk yang kutuju





inginku belum tergenggam

rinduku tak tersampaikan

aku diam hanya dalam tatapan
buku lupakan rinduku sejenak

sampai detik ini, aku lupa akan cacat
nila itu tidak merusak susuku

aku tetap melihat jernih, kagum
kamu kuharap demikian

singkat.
kuharap burung merpati menyampaikan rinduku.

-terimakasih-




3.5.10

Kemauan Jiwa

Memberi, memberi, dan memberi. Sekali lagi, hanya memberi.

Sulit. Keserakahan manusia selalu mengusahakan kepamrihan. Kepicikan manusia selalu mencari alasan pada tiap pemberian yang diterimanya. Kehausan akan sebuah ucapan "terima kasih", seakan - akan menjadi tolok ukur kepedulian manusia.

Mencapai titik dimana kita dapat hanya memberi dan memberi memerlukan sebuah kerendahan hati untuk melihat segala hal yang telah terjadi di dalam hidup kita. Mengaku taat beribadah, namun selalu lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada diri sendiri. Bangga dengan agama yang tercatat di kartu pengenalnya, sehingga seolah - olah punya kuasa untuk menjadi hakim terhadap hidup sesamanya manusia. Memiliki tingkat intelektual tinggi, namun menjadi sombong sehingga mampu menyetir hidup orang dengan senyum liciknya.

Titik di mana sebuah pemberian bermakna hanya memang untuk memberi, memang tidak selalu memiliki alasan yang rasional untuk dimengerti oleh khalayak ramai. Ini pengalaman, ini pemahaman. Keirasionalan alasan dalam memberi yang bermakna hanya untuk memberi, telah membuat manusia yang melakukannya mencapai titik kebahagiaan yang sangat ingin dibaginya kepada orang lain.

Pemberian ini cinta, dan cinta ini merupakan sebuah panggilan. Tak ada tangisan saat melakukannya, yang ada hanya senyum bahagia, yang mampu memancarkan energi positif ke tiap sudut hati manusia yang ditemuinya. Sekali lagi, ini keajaiban. Tak bisa dinalar. Namun dapat dimengerti, saat Anda mencoba merasakannya.

17.4.10

Aku Pikir, Aku Mati.

Aku tidak menerka, aku memastikan.

Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Tak perlu bersemayam lebih lama di dalam daging ini. Daging ini liar, daging ini penuh nafsu. Aku tak bisa mengubah itu.

Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Aku mati oleh pikiranku sendiri. Karena aku pikir, aku yang paham tentang itu. Hal itu tidak akan memperalat raga ini, walaupun kadang membutakan nurani.

Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Pikiran, jiwa, dan raga ini ini hanya aku yang mengerti. Cinta ini tidak hanya untukku, meski hanya aku yang paham. Raga ini bukan hanya untukku, meski hanya aku yang mengerti. Jiwa ini jelas untuk sesamaku, meski hanya aku yang yang tahu.

Aku pikir ini tak akan berlangsung lama. Ragaku tak akan merasakan polusi dunia lebih lama. Tak berpikir pula untuk mencintai dunia ini untuk waktu yang lebih lama. Jiwa ini siap melepas semuanya.

Aku pikir, paling tidak 10 tahun lagi. Aku dibakar, aku memilih untuk jadi abu. Aku celaka oleh diriku sendiri atau orang lain, aku tak tahu. Tapi aku memilih untuk celaka oleh ideku.

Aku pikir, aku mati oleh pikiranku 10 tahun lagi.

16.4.10

Kesadaran Pagi

jangan bangun. jangan beranjak.
waktu akan berhenti sejenak.
statis.


jangan dilawan. jangan digubris.
biarkan rasio ini merajalela.

idealis.



bukan untuk dipertanyakan. bukan untuk dijawab.
cobalah rasakan kepenatan ini.

stagnan.



mata takkan menuli. telinga takkan membuta.
biarkan tangan berlari.

peka.



ini situasi. ini latihan. ini kepedulian. ini kemirisan. ini perlawanan. ini takkan berhenti.