27.2.11

VETERAN


Kembali bergelut, kembali kalut.
Ini bukan kali pertama, tapi layaknya perdana.
Aku tak kan jatuh lagi, aku tak kan cinta lagi.
Tak ada lagi kata percaya, karena takut diperdaya.
Aku ragu untuk maju, sebab trauma yang menggema.

6.2.11

cintapi


tak usah kamu janjikan sesuatu yang baik, karena aku tahu pasti mana yang benar.
tak perlu kamu kabarkan indahnya surga, karena aku tahu pasti buruknya neraka.

apakah cintamu hanya sebatas ambisi?
apakah sayangmu hanya sebatas mimpi?
apakah kasihmu hanya sebatas fiksi?

buang Tuhanmu jika ternyata Dia masih mengajarkan kebencian.
buang Tuhanmu jika ternyata Dia masih congkak menjadi hakim.
buang Tuhanmu jika ternyata Dia masih menjual janji palsu.
buang juga Tuhanmu jika Dia masih jadi alat pamungkas untuk menipu.

tak akan aku sangkal jika dunia ini kejam.
tak akan aku sangkal jika dunia ini jahanam seperti nabi-nabi palsu.
tapi kan ku bantah bila ragaku tak mampu berontak.
tapi kan ku bantah bila ayat-ayat ini menyesatkan manusia.

penghargaan hidupmu hanya sebatas uang semata, tak cukup untuk meratakan mata hati nurani.


#justsaying 2

Insomnia tak kunjung reda. Insomnia tak jadi masalah.
Geramannya tak harus kamu gubris, karena itu bentuk perhatian.

Malam ini, kita menikmati bulan. Malam ini, kita menantang dingin.
Tak usah pedulikan keanehan yang kita lakukan, karena ini ungkapan kesepian. Karena ini jeritan persahabatan.

Insomnia ini tak jadi masalah, walau kita tahu, matahari makin cemburu dengan hangatnya bintang.
Lelah kita ini bukan soal, walau kadang dalam bercakap kita membual .

Ini semua hanya ungkapan, yang kiranya tak tertangkap asa karam. Keseluruhan penuh harap tak hanya jadi semu.

24.1.11

#justsaying

Lelahku takkan pernah jadi lelahmu. Begitu juga dengan kesenanganku, takkan pernah jadi milikmu. Hidupku tak kunjung usai untuk berperang. Aku tak akan berhenti hingga benar benderang. Jangan berpikir, aku tak merindukan suaramu. Karena hanya itulah nafas yang kan kuingat.

Aku berusaha sendiri untuk coba berdiri tegak. Aku tak perlu Tuhanmu, karena takut menjadi pesakitan. Jangan paksa aku menyanyikan lagu puja-pujian untuk Sang Pencipta, kalau Dia sendiri tak dapat turun langsung memberikan mukjizat-Nya.

Jiwa mengawang ini, menyambut raga yang lelah. Pikirku melayang, menunggu sambutan. Aku tergerus dengan kesibukkan yang mematikan. Ini sungguh berbisa, karena telah mengalir di dalam darahku. Tak mampu aku hentikan. Karena aku hanya mampu redakan sejenak.

Hai kamu yang di sana! Aku ingin sekali mengaliri air mata ini. Melepas kejenuhan hati, meremukkan dendam yang masih mengakar. Namun dinginnya lantai ini, mampu membekukan keresahan jiwa ini. Jangan lagi paksa aku untuk terus meratap, karena mosaik ini sudah pasti mudah pecah.

Ahhh... Mataku lelah menerawang. Pikiranku lelah untuk menebak. Cukup! Aku tak kan lagi memotong. Karena ini bukan tentang keindahan. Ini tentang keindahan. Kamu bingung? Jangan! Ini ternyata memang hanya permainan realitas. Hanya yang punya kuasa, yang sanggup mengkostruksinya.

Kamu ingin sebuah kebaikan, aku punya penilaian. Aku seorang malaikat, bila kamu mampu meliuriku. Tak usah sungkan, karena hanya ini yang kucari. Sebuah kemasyuran, sebuah sanjungan. Aku tak butuh nada minormu, karena aku paling tahu bahwa kamu sangat mengharapkanku sungguh.

Cukup sudah aku menggeliatkan lidah dan pikiranku. Lelahku takkan pernah jadi lelahmu. Begitu juga dengan kesenanganku, takkan pernah jadi milikmu. Sebab aku tahu, kamu hanya menginginkannya, bukan untuk meraihnya. Salam hangat dariku yang juga demikian.


31.12.10

akhirnya... (surat terakhir)

ini tentang waktu. waktu itu, tahun ini.


di hari ini, semua telah lebur menjadi pengalaman. 
semua keputusan telah terjadi dan menjadi hasil. 
jangan ungkap lagi umpatanmu, jangan pendam lagi dendammu.
tak akan ada habis, tak akan pernah usai walau tahun ini selesai.


sedihmu tak akan jadi sendu melulu, bahagiamu tak jua jadi tawa selamanya.
cobaan yang lalu adalah ujian. berkahmu sekarang adalah buahmu.
tak perlu waswas diri, karena yang kita butuhkan cukup mawas diri.
ceritamu adalah pelajaranku. pengalamanku adalah kekayaanku dan pasti kubagi denganmu.


maaf kalau lalu aku marah. terima kasih bila ternyata kamu pengasih.
aku mainkan kata untukmu yang malam ini sendu dan gelisah.
aku mainkan nada untukmu yang malam ini terlalu jemu.
aku mainkan muka untukmu yang malam ini butuh senyum.


akhirnya... 
waktu kita ini hampir usai. tapi kita tidak akan pernah mati.

16.12.10

Untuk Jiwa yang Lelah Akan Amarah

Kepada siapa aku harus berterimakasih ketika ada kerinduan?
Kepada siapa aku juga harus berterimakasih ketika ada senyuman?
Kepada siapa pula aku harus berterimakasih ketika ada cinta yang merenggut api amarahku?

Kerinduan, senyuman dan cinta yang nyata nan sejuk ini menjadi bumbu mutakhir untuk menenggelamkan raga ke alam ketidaksadaran.

Terimakasih untukmu yang sudi mengulangnya...