Showing posts with label fee mel. Show all posts
Showing posts with label fee mel. Show all posts

17.12.11

Tidak Patah, Tapi Hilang

Malamku berat, bangunku telat.
Mataku sembab, nafasku sesak.
Aku terisak dari rindu yang tersendat.

Lagi sendiri.
Langkahku limbung, tak apa. Semua sudah kadung.
Jangan coba diulang, karena nanti malah usang.

Hari ini, hari baru.
Suasana baru, tapi tak seimbang. Entah kenapa, jangan dipaksa.
Bukan karena aku tak tahu, aku hanya belum ingin memberitahu.

Aku tidak sedang patah hati, karena aku tak kecewa.
Dan memang aku tidak sedang patah hati, karena aku tak marah.

Pagi ini, aku sadar. Aku sendiri. Iya memang hanya sendiri.
Pagi ini, aku sadar. Saat hirup dalam-dalam. Hatiku tak patah, tapi hilang.

15.12.11

kolaborasi malam

bersama agnes magdalena

jika takut, aku takkan terus menari.
ini tak ubahnya sebuah guratan kilat yang memaksa kita untuk melihat.

jika takut, aku takkan memainkan nada yang sama.
daripada nanti kamu muak mendengarkannya.

aku tersesat!
tapi tak ingin pulang!

ingin rasanya tetap di barisan belakang.
walau hanya diam, memandang kamu sebelum menghilang.

27.11.11

sedikit cerita tentang lentera





seminggu ini lentera menerangi banyak orang.
tapi hari ini usai, ya selesai.


berharap lenteranya tetap menyala, 
tidaklah muluk.





29.4.11

tak selamanya kusam

Sejenak merona...
Sejenak merengut...
Jangan kusam...
Karena kamu tak pantas masam....

Aku di sini melihat,
Setitik indah paras dunia di tengah kotornya konflik kepentingan.
Aku di sini menikmati,
Riuhan wangi yang melegakan pikiran dari bobroknya jahilan adu domba.
Aku di sini terbuai,
Dengan merdunya melodi hawa yang bebas dari konstruksi kebrengsekan adam.

Walau hilang, tak akan muram
Karena keseimbangan tersebut telah ditemukan
Walau hilang, tak akan muram
Karena aku tergerus dengan iming-iming cita-cita
Walau hilang, tak akan muram
Karena diberikan senyuman anggun yang kekal


30.9.10

kembali menyapa

Apa kabar?
Lama tak berjumpa, lama tak menyapa.

Jangan pikir aku tak berpikir tentang jarak ini.
Keacuhanku tak berarti menutup telinga akan keadaan yang memekakan ini.
Ketidakpedulianku tak berarti menutup mata akan situasi tragis ini.
Terlalu banyak darah yang tumpah, terlalu amis udara ini.

Aku kembali untuk menyapa, aku kembali untuk mencari yang hilang.
Aku kembali dengan makna, aku kembali dengan senyum.
Nilamu bukan noda, tapi bukti bahwa kamu adalah manusia.
Jangan merasa bersalah, walaupun itu pantas.


20.2.10

Surat dari Kurir

Kelapa Dua, 20 Februari 2010


Kepada 'Yang Terkasih'

di tempat.



Salam Hangat,

Apa kabar? Saya berharap Anda selalu baik-baik saja di setiap detiknya. Surat ini saya kirimkan kepada Anda dengan maksud untuk menceritakan sesuatu hal yang sifatnya rahasia – yang mungkin sepele menurut Anda – mengenai seorang teman saya. Saya harap Anda bersedia menyempatkan sedikit waktu untuk membaca surat ini.

Seorang teman saya ini, menurut saya, agak mengalami gangguan kejiwaan (bagian ini tolong jangan diberitahu ke yang bersangkutan :D). Karena sejak pagi-pagi buta hari Jumat, 19 Februari 2010 lalu, dia agak sulit bernapas lega. Menurut pengakuan dia, hal tersebut disebabkan karena pertanda yang berhubungan dengan Anda.

Yang mana, dia merasa waktunya untuk menaruh rasa terhadap Anda akan disudahi. Entah oleh siapa dan mengapa. Maka dari itu melalui surat ini, saya sebagai temannya, hanya ingin menyampaikan sedikitnya dua pesan dari dia untuk Anda.

Pertama, dia ingin meminta maaf terhadap kelakuannya selama ini terhadap Anda. Entah itu melalui short message service, telepon, maupun saat bertatap muka dengan Anda. Kelakuan yang sifatnya mengganggu kehidupan Anda, sehingga dia pun tidak kaget bila Anda merasa risih yang kemudian memilih untuk menghindar darinya. Dia juga ingin meminta maaf karena seringkali, dia membuat jengkel dan marah Anda sehingga tidak jarang Anda memakinya.

Menurutnya, hal-hal tersebut dilakukan bukan bermaksud untuk menggangu, tetapi itu merupakan sekadar pilihannya agar dapat berhubungan dengan Anda. Menurut saya pribadi, ini hal yang aneh, tapi dia memang mempunyai cara yang unik untuk memberitahu secara simbolik mengenai kecintaannya terhadap Anda. Ya! Dia sangat mencintai Anda, dan juga meminta maaf bila kecintaannya sangat mengusik kehidupan Anda.

Yang kedua, merupakan sebuah ucapan terima kasih yang ditujukan terhadap Anda. Dia berterima kasih kepada Tuhan karena pada akhirnya mengerti maksud dari pertemuannya dengan Anda. Mungkin pertemuannya dengan Anda merupakan jawaban doa kecilnya yang dulu pernah dimohonkan kepada Tuhan. Sempat dia bercerita kepada saya mengenai doa kecilnya itu.

Dulu ia pernah memohon kepada Tuhan agar dibantu dalam mengatasi keegoisannya sebagai manusia. Dan seiring perjalanan waktu yang agak menguras kesabaran, akhirnya, tepatnya dua minggu sebelum natal, dia seperti menemukan maksud pertemuannya dengan Anda. Maka sejak itu pula yang dirasakan oleh teman saya, yang kepala batu itu, termodifikasi seutuhnya.

Maksudnya, cinta yang dipahaminya sekarang bukan suatu pamrih, namun merupakan suatu pilihan bebas untuk itu. Sejak itu, dia tidak pernah lagi mengharapkan sikap setuju dari Anda terhadap kecintaan dia terhadap Anda. Tidak pernah lagi berharap bahwa Anda akan melakukan hal yang sama terhadap dirinya. Melainkan, dia memaknai apa yang dia rasakan sebagai sesuatu kesempatan untuk memberi dan memberi. Sehingga bila nanti ada keajaiban di suatu waktu, Anda melakukan hal yang sama terhadap teman saya, seperti yang ia lakukan terhadap Anda, dia berharap itu merupakan hasil kehendak bebas Anda bukan karena balas budi atau apa pun. Selain itu, dia juga berpesan kepada saya, bahwa dia tidak pernah terlalu banyak berharap Anda dapat mengerti apa yang selama ini dilakukannya terhadap Anda. Karena dia melakukannya tulus dan gembira. Dan menurutnya hal ini merupakan yang pertama kali dia rasakan.

Ya, demikian pesan dari teman saya, yang pemalu dan penakut untuk urusan ini, sudah saya sampaikan seluruhnya kepada Anda. Sebelum mengakhiri surat ini, saya ingin memperkenalkan diri karena di awal surat saya lupa memberitahukan kepada Anda. Nama saya, Ivanhoe Fadeyka Novikov. Sedangkan nama teman saya yang menaruh rasa kepada Anda ialah Ivanhoe Fadeyka Novikov.

Maaf ya, karena sekali lagi Anda menghadapi perilaku aneh saya ini. Saya harus menyampaikan hal ini kepada Anda melalui cara seperti ini, karena saya pikir ini merupakan cara termudah untuk mengungkapkan hal tersebut. Untuk semuanya, saya ucapkan terima kasih.


Yang selalu menghantui Anda,



Ivanhoe Fadeyka Novikov

6.12.09

Surat Penangkapan

Entah kita atau hanya saya..
Tapi saya, secara pribadi, perlu berbicara..

Ini sangat menyiksa. Ini membuat saya menderita. Saya tidak dapat mengungkapkan dan mendeskripsikan yang saya rasa saat ini. Dan saya berpikir, Anda punya andil besar terhadap apa yang terjadi pada diri saya saat ini.

***
Minggu, 6 Desember '09

Kepada 'Yang Bersangkutan
'
Di Tempat

Maafkan saya karena telah memasukkan Anda ke dalam Target Operasi saya selama beberapa bulan ini. 'Target Operasi', frasa ini mungkin tepat saya peruntukkan kepada Anda. Karena Anda telah membuat seseorang berusaha melakukan tindak kriminal, yaitu pembunuhan. Maaf bila hal ini Anda tidak ketahui secara pasti mengenai orang tersebut.

Tersangka berusaha untuk membunuh cinta yang telah dia tumbuhkan secara susah payah terhadap Anda. Hal ini dia lakukan karena begitu takut kehilangan Anda. Oleh karena itu yang bersangkutan merencanakan proses pembunuhan tersebut dengan cara merasionalkan apa yang dia rasakan terhadap Anda.

Untungnya hal ini saya dapat cegah dengan cepat. Karena menurut saya, apa yang dia rasakan merupakan sebuah anugerah yang sangat dicari dan didambakan oleh orang banyak dan memerlukan keberanian yang sangat besar untuk menerima, merasakan, dan memaknai anugerah tersebut. Dan bila menilik kembali sejarah hidup dari orang ini, beliau termasuk yang sulit untuk jatuh hati terhadap lawan jenisnya. Jadi menurut saya dia seharusnya dapat mengutarakannya terlebih dahulu kepada Anda, tidak buru-buru untuk melakukan pembunuhan tersebut.

Menurut laporan yang saya terima dari intelijen, beberapa hari belakangan ini dia mengalami kegilaan yang amat sangat. Pendapat saya hal ini terjadi karena frustasi berat yang dialaminya akibat dari ketidakpastian sikap yang Anda tunjukkan selama ini. Maka dari itu, saya berinisiatif untuk mengirimkan pemberitahuan ini kepada Anda.


Pada awal surat ini, saya tulis permintaan maaf mengenai penetapan Anda sebagai Target Operasi dan ketidaktahuan Anda mengenai tersangka yang saya maksud. Bila Anda belum menyadari tentang siapa yang saya maksud, saya dengan senang hati akan memberitahunya dalam akhir surat penangkapan ini.

Ivanhoe Fadeyka Novikov, 21 tahun, mahasiswa.
Ya nama di atas merupakan nama orang yang berniat melakukan pembunuhan tersebut. Bila Anda merasa tidak asing dengan nama itu, sangat wajar. Karena nama itu merupakan nama saya sendiri. Maka dari itu, dengan ini saya secara pribadi berniat untuk berbicara mengenai hal ini. Mengenai penangkapan Anda, apakah dapat saya tangkap atau tidak. Terima Kasih.

Hormat Saya,


Ivanhoe Fadeyka Novikov

16.7.09

Makhluk dari Galaksi Lain

Heh makhluk unik yang (kadang) tak tahu diri..

Sudah bangun?
Heran, kantukku tak membuat kekagumanku hilang..
Yang ada, malah kekaguman itu yang memusingkanku..

Entah aku ini untung atau buntung
Entah harus disyukuri atau disesali
"Yasudah.."-mu itu bukan jawaban

Tak mengerti harus berkata apa
Dan berbahasa apa bila harus berkata

Pilih mana ??
Bahasa Sunda atau Jawa?
Bahasa Inggris, Latin atau Yunani?
atau Bahasa Ibu Pertiwi saja?

Biar hatiku yang berbicara..
Toh kamu pasti akan mengerti..

Yang aku lakukan pasti aku pikirkan..
Sampai - sampai emosi ini pun tak betah..
Dia menonjok ubun-ubunku sambil berteriak
"Heh! Mau sampai kapan menunggu???"

Tak ada yang dapat kuungkap
Karena aku belum punya hak untuk mengungkap
Tak ada yang dapat kubicarakan
Karena cinta ini tertutup rapat oleh kerasnya hatimu

Tarik nafas dalam - dalam..hufff..
Hanya itu yang bisa kulakukan saat mengingat kita..

"Kita"???
Pantaskah untuk menjelaskan semua yang sedang terjadi??
Aku tak mengerti tentang kepantasan dalam hal ini..
Kamu mungkin tahu sampai mana kepantasan itu..
Karena kamu yang punya..

Haha..
Egomu dan egoku beradu, semua karenaku...*
Aku mencoba memaknainya,
Karena ku tak ingin mengulang kesalahan..

Wajar kan bila kepastian membuat semuanya aman?
Wajar kan bila ketidakpastian membuat kita terjaga terus?

Ah, kamu ini memang benar alien..
Kepastian yang tidak pasti seolah nyaman untukmu..
Kamu terus mereduksi maknanya..

Haha..
Pikiran nakalku mengawang-awang..
Kamu mengondisikannya agar aku terus terjaga tentangmu yaa??
Haha..
Bisa dijawab? Jawablah..
Jangan memerah wajahmu bila pikiranku menghampiri langit..

Menerka, menebak, mengira - ngira, serta kawan sejenisnya..
Yang sering mengajakku beraksi di tengah ketidakpastian..
Hanya ini yang terus tersirat ttg kamu dan aku..

Ingin percaya?Belum pantas untuk percaya..
Saat cemburu?Tak punya hak untuk itu..
Aku ingin jawaban, karena aku jahat..
Ini bukan ancaman, tapi ketakutan..

Mungkin aku akan memaksamu, entah kapan..
Karena sekarang adalah giliranmu..
Aku sudah menawarkan proposal hidupku..
Giliranmu untuk menerima atau menolaknya..

Bila kamu tidak suka dengan permainan kataku..
Jangan juga membolak - balik keadaan..
Itu setali tiga uang dengan permainanku..

Aku tak ingin hanya terus terjaga tentangmu..
Karena aku ini ingin sungguh menjagamu..

27.6.09

Batu Bintangku

Non est ad astra mollis e terris via

Hari ini ia bangun pagi sekali, karena sanggahan alarm yang aku pasang. Tidur panjangmu terhenti karena jahilnya emosi ini. Wajahmu, yang jarang terlihat anggun itu, terbangun kaget. "Maaf..", kataku pagi ini. Aku tidak mampu mengemas dengan rapat kecintaan ini. Hahaha.. Maaf (lagi) aku tidak bisa mengambil jalan tengah untuk hal ini. Karena aku bukan pendusta saat harus bercinta.

Baumu itu tak pernah hilang oleh kencangnya angin. Akan selalu tersimpan rapi di benakku. Tak perlu dandanan, karena muka liurmu itu sudah membuat mata ini tak mau berkedip. Tanpa melihat pun, kamu selalu berbicara tanpa suara. Aku dan kamu tahu tentang kelebihan kita itu. Entah apa yang kamu bicarakan, entah hal buruk atau sebaliknya. Tapi hal itu tetap menakjubkan untukku.

Menjelang siang, ketika kamu mulai mengacuhkanku, aku selalu menghela nafas tak percaya kalau itu hanya anganku. Selalu campuraduk rasanya bila menyadari hal itu. Disini yang ada hanya bau ketiak dan mulutku. Muka ini tetap lusuh dengan liur yang masih menempel. Entah aku untung atau buntung. Yang pasti aku masih duduk disini, menulis di dalam keheninganku.

Huhh... Lemas jadi aku diingatnya..

Hai perempuan!!! Aku punya kail dan sedikit cacing untuk memancing!! Maukah kamu? Aku bukan mau memancing ikan. Tapi aku ingin memancing kamu dengan goresan cacingku. Aku tak yakin kalau kail ini dapat mengangkatmu. Sampai - sampai aku jengah dibuat olehmu. Aku sangat sadar kalau kamu itu batu karang untukku. Hanya sedikit yang mampu melihat keindahanmu dari kerasmu itu. Tapi karena kerasmu itulah aku melihat keindahanmu.

Sangat ingin aku menggunakan alat berat untuk meleburmu. Karena kail ini tak membawa progress untukku. Tapi apa kamu siap, bila seantero jagad tahu tentang apa yang kita lakukan?
Aku yakin tidak. Karena kamu tidak akan siap akan sebuah keterbukaan.

Permainan ini takkan kumainkan selamanya. Aku mulai habis. Aku mulai jenuh. Aku mulai dingin. Sesak ruangku untuk menghela nafas. Paru - paruku menyempit karena kebekuanmu. Pergerakkan yang revolusioner akan kupilih. Suka atau tidak. Aku memaksa kali ini.

Bulan sudah menjemput, bersiaplah mendengar dentuman lain di pagimu esok. Kita akan naik ke permukaan bersama. Tak tahu dengan senyum atau muram. Yang pasti, jagad ini harus tahu tentang pagi kita. Tak ada lagi yang harus ditutupi.


- untukmu yang punya hatiku -

21.6.09

Jealous Guy

Maafkan aku...
Kekeliruanku menjadi.
Terkaanku tidak selalu lurus.

Aku tak pny kuasa utk menanyakannya.
Aku tak pny kuasa utk memagarinya.
Dosa ini, keangkuhanku.

Kita tak punya tali.
Kita tak punya janji.
Tapi aku selalu ingin melihat jejakmu.
Sebuah kesalahan di dalam suatu kewajaran.

Cemburuku, ketakutanku.
Maafkanku karena jarang mencinta.

17.6.09

Thank's GOD (Gombal)

Dia datang entah atas nama siapa atau apa..

Tak butuh obat sakit kepala
Tak butuh obat penurun demam
Tak butuh obat apapun

Dia mampu redakan semua utk saat ini.

She makes me better right now.
She is my pain killer. Thank's God.