22.3.10

i'm sick of the secrets



frightened frightened frightened frightened frightened frightened frightened
frightened frightened frightened frightened frightened frightened frightened frightened
frightened frightened frightened frightened frightened frightened
frightened frightened frightened frightened frightened frightened frightened
frightened frightened frightened frightened frightened frightened
frightened frightened frightened frightened frightened frightened frightened
frightened frightened frightened frightened frightened frightened
frightened frightened frightened frightened frightened frightened frightened frightened
frightened frightened frightened frightened frightened frightened frightened


"dan, Aku bahkan tidak mengenali Anda lagi..."

Saya egosentris, siapa peduli?
Saya berdiri sendiri, siapa peduli?
Saya bertengkar dengan Tuhan, siapa peduli?
Saya menghilang tak tahu arah, siapa peduli?

Yang Anda cari adalah keegoisan Anda.
Yang Anda terima adalah kebahagiaan Anda.
Yang Anda peluk adalah keinginan Anda.
Yang Anda tuju adalah Anda yang berada dalam diri manusia lain.

Apa itu keegoisan? Apa itu kepedulian?
Apa itu ketulusan? Apa itu kebahagiaan?

Jangan tanya saya yang sedang gelap mata.
Jangan tanya saya yang sedang kalap amarah.
Jangan tanya saya yang sedang mencari arah.
Jangan tanya saya yang sedang hilang pijakan.


"Akarku hilang pijakan ketika air bah ini terlanjur besar, pohon sedih ini mencari satu cacing yang dapat membantu meresapi kembali air-air kehidupan".

13.3.10

Izin

boleh saya bosan terhadap Anda?
boleh saya bosan terhadap rutinitas ini?
boleh saya berniat mencelakakan Anda?
walaupun Anda merupakan orang yang saya sanjung?

boleh saya bosan terhadap kebisingan ini?
boleh saya bosan untuk mempertahankan pertemanan yang penuh urat ini?
boleh saya berniat untuk menjadikan kalian musuh?
walaupun kalian telah memberikan warna juga, masihkan boleh?

boleh saya kembali mempertanyakan kembali maksud-Mu?
boleh saya kembali tak acuh terhadap-Mu, sebelum pertanyaan ini dijawab?
boleh saya kembali tak puas dengan kesewenangan-Mu terhadap hidup saya?
walaupun Kamu tak henti-hentinya memberikan nafas kehidupan kepada saya?

Sampai pada akhirnya ruang nyaman ini kembali terbangun kokoh, biarkan saya yang menjawab ini semua. Karena keegoisan ini menjadi obat yang paling mujarab dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berbau konfrontasi ini.

7.3.10

Satu Hal yang Saya Tahu

satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini begitu alot untuk diarungi oleh seorang diri

satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini sudah terjerembab ke dalam gelapnya materi

satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini begitu sukar untuk peduli terhadap sekitarnya

satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini tidak cukup kuat untuk melawan keserakahan

satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini tidak mengerti perbedaan dari eksplorasi dengan eksploitasi

satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini terlalu terlena dengan nafsu cinta

satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini sangat pamrih

satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini menutup matanya sangat rapat mengenai sebuah perbedaan

satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini terlalu gila terhadap penghargaan

dan satu hal yang saya tahu
bahwa dunia ini merupakan hal yang independen namun memiliki interpedensi yang kuat terhadap nafsu menguasai yang merupakan efek dari konglomerasi...

20.2.10

Surat dari Kurir

Kelapa Dua, 20 Februari 2010


Kepada 'Yang Terkasih'

di tempat.



Salam Hangat,

Apa kabar? Saya berharap Anda selalu baik-baik saja di setiap detiknya. Surat ini saya kirimkan kepada Anda dengan maksud untuk menceritakan sesuatu hal yang sifatnya rahasia – yang mungkin sepele menurut Anda – mengenai seorang teman saya. Saya harap Anda bersedia menyempatkan sedikit waktu untuk membaca surat ini.

Seorang teman saya ini, menurut saya, agak mengalami gangguan kejiwaan (bagian ini tolong jangan diberitahu ke yang bersangkutan :D). Karena sejak pagi-pagi buta hari Jumat, 19 Februari 2010 lalu, dia agak sulit bernapas lega. Menurut pengakuan dia, hal tersebut disebabkan karena pertanda yang berhubungan dengan Anda.

Yang mana, dia merasa waktunya untuk menaruh rasa terhadap Anda akan disudahi. Entah oleh siapa dan mengapa. Maka dari itu melalui surat ini, saya sebagai temannya, hanya ingin menyampaikan sedikitnya dua pesan dari dia untuk Anda.

Pertama, dia ingin meminta maaf terhadap kelakuannya selama ini terhadap Anda. Entah itu melalui short message service, telepon, maupun saat bertatap muka dengan Anda. Kelakuan yang sifatnya mengganggu kehidupan Anda, sehingga dia pun tidak kaget bila Anda merasa risih yang kemudian memilih untuk menghindar darinya. Dia juga ingin meminta maaf karena seringkali, dia membuat jengkel dan marah Anda sehingga tidak jarang Anda memakinya.

Menurutnya, hal-hal tersebut dilakukan bukan bermaksud untuk menggangu, tetapi itu merupakan sekadar pilihannya agar dapat berhubungan dengan Anda. Menurut saya pribadi, ini hal yang aneh, tapi dia memang mempunyai cara yang unik untuk memberitahu secara simbolik mengenai kecintaannya terhadap Anda. Ya! Dia sangat mencintai Anda, dan juga meminta maaf bila kecintaannya sangat mengusik kehidupan Anda.

Yang kedua, merupakan sebuah ucapan terima kasih yang ditujukan terhadap Anda. Dia berterima kasih kepada Tuhan karena pada akhirnya mengerti maksud dari pertemuannya dengan Anda. Mungkin pertemuannya dengan Anda merupakan jawaban doa kecilnya yang dulu pernah dimohonkan kepada Tuhan. Sempat dia bercerita kepada saya mengenai doa kecilnya itu.

Dulu ia pernah memohon kepada Tuhan agar dibantu dalam mengatasi keegoisannya sebagai manusia. Dan seiring perjalanan waktu yang agak menguras kesabaran, akhirnya, tepatnya dua minggu sebelum natal, dia seperti menemukan maksud pertemuannya dengan Anda. Maka sejak itu pula yang dirasakan oleh teman saya, yang kepala batu itu, termodifikasi seutuhnya.

Maksudnya, cinta yang dipahaminya sekarang bukan suatu pamrih, namun merupakan suatu pilihan bebas untuk itu. Sejak itu, dia tidak pernah lagi mengharapkan sikap setuju dari Anda terhadap kecintaan dia terhadap Anda. Tidak pernah lagi berharap bahwa Anda akan melakukan hal yang sama terhadap dirinya. Melainkan, dia memaknai apa yang dia rasakan sebagai sesuatu kesempatan untuk memberi dan memberi. Sehingga bila nanti ada keajaiban di suatu waktu, Anda melakukan hal yang sama terhadap teman saya, seperti yang ia lakukan terhadap Anda, dia berharap itu merupakan hasil kehendak bebas Anda bukan karena balas budi atau apa pun. Selain itu, dia juga berpesan kepada saya, bahwa dia tidak pernah terlalu banyak berharap Anda dapat mengerti apa yang selama ini dilakukannya terhadap Anda. Karena dia melakukannya tulus dan gembira. Dan menurutnya hal ini merupakan yang pertama kali dia rasakan.

Ya, demikian pesan dari teman saya, yang pemalu dan penakut untuk urusan ini, sudah saya sampaikan seluruhnya kepada Anda. Sebelum mengakhiri surat ini, saya ingin memperkenalkan diri karena di awal surat saya lupa memberitahukan kepada Anda. Nama saya, Ivanhoe Fadeyka Novikov. Sedangkan nama teman saya yang menaruh rasa kepada Anda ialah Ivanhoe Fadeyka Novikov.

Maaf ya, karena sekali lagi Anda menghadapi perilaku aneh saya ini. Saya harus menyampaikan hal ini kepada Anda melalui cara seperti ini, karena saya pikir ini merupakan cara termudah untuk mengungkapkan hal tersebut. Untuk semuanya, saya ucapkan terima kasih.


Yang selalu menghantui Anda,



Ivanhoe Fadeyka Novikov

Semoga Tuhan berkenan ...

Semoga Tuhan berkenan...

Aku berharap Tuhan berkenan, dan kamu pun demikian...

Ini sulit untuk diungkapkan, tapi aku percaya kamu dapat mengerti walau sulit. Karena aku percaya Tuhan akan memperkenankan hal ini.

Maaf kalau bertele-tele, karena aku tak mempunyai kosakata yang cukup untuk menjelaskan hal yang irasional ini. Ketakutan akan kehilanganmu merupakan bukti sebuah kecintaan yang tak terhingga.

Jangan selalu merasa bersalah di saat melihat mukaku mulai berlipat kusam dan muram durjana. Ini hanya kamuflase dari kegembiraan atas suka cita ini.

Jangan pula selalu merasa bersalah ketika menyikapi ’teror’-ku. Karena aku bahagia dengan kemiskinan yang selalu membuat jiwa ini tersenyum.

Tak ada kata-kata yang pantas untuk mewakili anugerah yang datang terhadapku ini. Aku tidak peduli bila pilihannya untuk mencintai orang lain. Karena, sejak awal, dia merupakan hasil dari pilihan bebasku untuk mencurahkan cinta ini.